Tuesday, 9 December 2025

PKKS SMK Muhammadiyah 1 Jakarta Tahun Pelajaran 2025-2026 Berlangsung Sukses

 PKKS SMK Muhammadiyah 1 Jakarta Tahun Pelajaran 2025-2026 Berlangsung Sukses

Jakarta, [Selasa, 09 November 2025] – Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) SMK Muhammadiyah 1 Jakarta untuk tahun pelajaran 2025-2026 telah selesai dilaksanakan dengan lancar. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah, Bapak Febriantoni, M.Pd., dalam memimpin sekolah menuju visi Menghasilkan Lulusan yang Islami, Kompeten dan Responsif terhadap Perubahan Iklim".

Tim asesor yang bertugas dalam penilaian kali ini merupakan gabungan ahli pendidikan, terdiri dari:

Dr. Misriandi, M.Pd.

Dra. Hj Siti Nafiesah, M.Pd.

Dr. Aslam, M.Pd.

Agenda acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Ibu Tati Nurkhikmah, M.Pd, dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Tamim Hamzah mengenai "6 Habits Memudahkan ke Surga".

Sambutan pertama diberikan oleh perwakilan tim asesor, Dr. Misriandi, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penilaian yang melibatkan masukan dari staf dan guru, selain hasil observasi asesor sendiri.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dan pemaparan profil SMK Muhammadiyah 1 Jakarta oleh Kepala Sekolah Bapak Febriantoni, M.Pd. Beliau mempresentasikan berbagai capaian dan program sekolah yang berfokus pada menghasilkan lulusan yang islami, kompeten, dan responsif terhadap perubahan iklim.

Sesi inti PKKS mencakup pemeriksaan data administrasi dan wawancara mendalam dengan tim asesor untuk memvalidasi informasi yang telah disampaikan.

Tuesday, 25 November 2025

DZIKIR PAGI REMINDER

 *بِسْــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ*

        

🔊 𝐃𝐙𝐈𝐊𝐈𝐑 𝐏𝐀𝐆𝐈 𝐑𝐄𝐌𝐈𝐍𝐃𝐄𝐑




*أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ*


*A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim*


Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”


➡ *1. Membaca Ayat Kursi (1x)*


اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ


“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255) [1]


➡ *2. Membaca Surat Al-Ikhlas (3x)*


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ


“Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”

[2]


➡ *3. Membaca Surat Al-Falaq (3x)*


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ ,مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ


Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki. [3]


➡ *4. Membaca Surat An-Naas (3x)*


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ


“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.”

[4]


➡ *5. Membaca (1x)* :


أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.


*Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.*


“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” [5]


➡ *6. Membaca (1x)* :


اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ


*Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.*


“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” [6]


➡ *7. Membaca Sayyidul Istighfar (1x)*


اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ


*Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.*


“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” [7]


➡ *8. Membaca (3x)* :


اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ


*Allaahumma 'aafinii fii badanii, allaahumma 'aafinii fii sam'ii, allaahumma 'aafinii fii bashorii, laa ilaaha illaa anta. Allaahumma innii a'uudzu bika minal kufri wal faqr, allaahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil qobr, laa ilaaha illaa anta.*


“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” [8]


➡ *9. Membaca (1x)* :


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ


*Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahumah fadni min bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.*


“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” [9]


➡ *10. Membaca (1x)* :


اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ


*Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.*


“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” [10]


➡ *11. Membaca (3x)* :


بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ


*Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.*


“Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” [11]


➡ *12. Membaca (3x)* :


رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا


*Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.*


“Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” [12]


➡ *13. Membaca (1x)* :


يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ


*Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin*


“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” [13]


➡ *14. Membaca (1x)* :


أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ


*Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin*


“Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [14]


➡ *15. Membaca (1x atau 10x atau 100x)* :


لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.


*Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.*


“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” 

[15],[16],[17]


➡ *16. Membaca (3x)* :


سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ


*Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.*


“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.” [18]


➡ *17. Membaca (1x)* :


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


*Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.*


“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima.” [19]


➡ *18. Membaca (100x)* :


سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ


*Subhanallah wa bi-hamdih.*


“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.” [20]


➡ *19. Membaca (100x pagi atau sore)* :


أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ


*Astagh-firullah wa atuubu ilaih.*


“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” [21]


_____


_Fote Note:_


[1] Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat ini ketika pagi hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga sore hari. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga pagi hari.” (HR. Al-Hakim (1/562), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/418, no. 662), shahih).


[2] HR. Abu Dawud (no. 5082), an-Nasa-i (VIII/250) dan at-Tirmidzi (no. 3575), Ahmad (V/312), Shahiih at-Tirmidzi (no. 2829), Tuhfatul Ahwadzi (no. 3646), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/411, no. 649), hasan shahih.


[3] Ibid.


[4] “Barangsiapa membaca tiga surat tersebut setiap pagi dan sore hari, maka (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu”. Yakni mencegahnya dari berbagai kejahatan. HR. Abu Dawud (no. 5082), Shahiih Abu Dawud (no. 4241), Annasa-i (VIII 250) dan At-Tirmizi (no. 3575), At-Tarmidzi berkata “Hadits ini hasan shahih”. Ahmad (V/312), dari Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu. Shahiih at-Tirmidzi (no. 2829), Tuhfatul Ahwadzi (no. 3646), Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (1/411 no. 649), hasan shahih.


[5] HR. Muslim (no. 2723), Abu Dawud (no. 5071), dan at-Tirmidzi (3390), shahih dari Abdullah Ibnu Mas’ud.


[6] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1199, lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari, at-Tirmidzi no. 3391, Abu Dawud no. 5068, Ahmad 11/354, Ibnu Majah no. 3868, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Shahiih al-Adabil Mufrad no. 911, shahih. Lihat pula Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 262.


[7] “Barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga.” (HR. Al-Bukhari no. 6306, 6323, Ahmad IV/122-125, an-Nasa-i VIII/279-280) dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu.


[8] HR. Al-Bukhari dalam Shahiib al-Adabil Mufrad no. 701, Abu Dawud no. 5090, Ahmad V/42, hasan. Lihat Shahiih Al-Adabil Mufrad no.539


[9] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1200, Abu Dawud no. 5074, An-Nasa-i VIII / 282, Ibnu Majah no. 3871, al-Hakim 1/517-518, dan lainnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Shahiih al-Adabul Mufrad no. 912, shahih


[10] Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه “Ucapkanlah pagi dan petang dan apabila engkau hendak tidur.” HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 1202, at-Tirmidzi no.3392 dan Abu Daud no. 5067,Lihat Shahih At- Tirmidzi no. 2798, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 914, shahih. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2753


[11] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya.” HR. At-Tirmidzi no. 3388, Abu Dawud no. 5088,Ibnu Majah no. 3869, al-Hakim 1/514, Dan Ahmad no. 446 dan 474, Tahqiq Ahmad Syakir. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni Majah no. 3120, al-Hakim 1/513, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 513, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 655, sanad-nya shahih.


[12] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore, maka Allah memberikan keridhaan-Nya kepadanya pada hari Kiamat.” HR. Ahmad IV/337, Abu Dawud no. 5072, at-Tirmidzi no. 3389, Ibnu Majah no. 3870, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68, dishahihkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/518 dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, hasan. Lihat Shahiih At Targhiib wat Tarhiib I/415 no. 657, Shahiih At Targhiib wat Tarhiib al-Waabilish Shayyib hal. 170, Zaadul Ma’aad II/372, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2686.


[13] HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 46, An Nasai dalam Al Kubro 381: 570, Al Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 227


[14] HR. Ahmad III/406, 407, ad-Darimi II/292 dan Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wol Lailah no. 34, Misykaatul Mashaabiih no. 2415, Shahiihal-Jaami’ish Shaghiir no. 4674, shahih


[15] HR. Abu Dawud no. 5077, Ibnu Majah no. 3867, dari Ab ‘Ayyasy Azzurraqy radhiyallahu ‘anhu, Shahiih Jaami’ish Shaghiir no. 6418, Misykaatul Mashaabiih no. 2395, Shahiih at-Targhiib 1/414 no. 656, shahih.


[16]  HR. An-Nasa-i dalam 'Amalul wal Lailah (no. 24), Ahmad (V/420), dari Abu Ayyun al-Anshari. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (no. 113 dan 114) dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (I/416, no. 660), shahih.


[17] “Barangsiapa membacanya sebanyak 100x dalam sehari, maka baginya (pahala) seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, mendapat perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari. Tidaklah seseorang itu dapat mendatangkan yang lebih baik dari apa yang dibawanya kecuali ia melakukan lebih banyak lagi dari itu.” HR. Al-Bukhari no. 3293 dan 6403, Muslim IV/2071 no. 2691 (28), at-Tirmidzi no. 3468, Ibnu Majah no. 3798, dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Penjelasan: Dalam riwayat an-Nasa-i (‘Amalul Yaum wal Lailah no. 580) dan Ibnus Sunni no. 75 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dengan lafadz: “Barangsiapa membaca 100x pada pagi hari dan 100x pada sore Hari.”… Jadi, dzikir ini dibaca 100x diwaktu pagi dan 100x diwaktu sore. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2762


[18] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44. Dari Juwairiyah binti al- Harits radhiyallahu ‘anhuma


[19] HR. Ibnu Majah no. 925, Shahiih Ibni Majah 1/152 no. 753 Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54,110, dan Ahmad VI / 294, 305, 318, 322. Dari Ummu Salamah, shahih.


[20] HR. Muslim no. 2691 dan no. 2692, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Syarah Muslim XVII / 17-18, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 653. Jumlah yang terbanyak dari dzikir-dzikir Nabi adalah seratus diwaktu pagi dan seratus diwaktu sore. Adapun riwayat yang menyebutkan sampai seribu adalah munkar, karena haditsnya dha’if. (Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha-’iifah no. 5296).


[21] HR. Al-Bukhari/ Fat-hul Baari XI/101 dan Muslim no.2702

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:قَالَ رَسُو لُ اللهِ صلي الله عليه وسلم : يَااَيُّهَا النَّسُ، تُوبُواإِلَيْ اللهِ. فَإِنِّيْ اَتُوبُ فِيْ الْيَومِ إِلَيْهِ مِانَةً مَرَّةٍ

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.’” HR. Muslim no. 2702 (42).


Dalam riwayat lain dari Agharr al-Muzani, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

[إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ]

“Sesungguhnya hatiku terkadang lupa, dan sesungguhnya aku istighfar (minta ampun) kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702 (41)


Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

‘Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Yang Maha hidup lagi Maha berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.’

Maka Allah akan mengampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” HR. Abu Dawud no. 1517, at-Tirmidzi no. 3577 dan al-Hakim I/511. Lihat Shahiih at-Tirmidzi III/282 no. 2381.

Ayat yang menganjurkan istighfar dan taubat di antaranya: (QS. Huud: 3), (QS. An-Nuur: 31), (QS. At-Tahriim: 8) dan lain-lain.


-------------------------------------


Dinukil dari buku Doa Dan Wirid halaman 133- 155 yang disusun oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir jawas , Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii


====================

Berbagi dzikir dan doa yg bisa kita amalkan sehari-hari agar senantiasa kita selalu dekat dg Allah


▶️Halaman Facebook :

https://www.facebook.com/Kumpulan-Dzikir-Doa-100646828209234


▶️Chanel YouTube 

https://www.youtube.com/c/KumpulanDzikirDoa


▶️ Telegram 

https://t.me/kumpulandzikirdandoa

Friday, 21 November 2025

HIWAR (PERCAKAPAN) BAB 2 KELAS 11 SMK MUTU JAKARTA

 نُزُوْلُ الْقُرْآنِ


رِضْوَانٌ : صَبَاحُ الْخَيْرِ يَا نَصْرٌ

نَصْرٌ : صَبَاحُ النُّوْرِ يَا رِضْوَانٌ، مَاذَا تَعْمَلُ؟

رِضْوَانٌ : أَحْفَظُ الْقُرْآنَ

نَصْرٌ : أَيُّ جُزْءٍ تَحْفَظُ؟

رِضْوَانٌ : أَحْفَظُ الْجُزْءَ الثَّلَاثِينَ مِنَ الْقُرْآنَ

نَصْرٌ : هَلْ حَفِظْتَ كُلَّ سُوْرَةٍ مِنْهَا؟

رِضْوَانٌ : الحَمْدُ لِلَّهِ، حَفِظْتُ كُلَّهَا



لَيْلَى : مَسَاءُ الْخَيْرِ

حَسَنَةُ : مَسَاءُ النُّوْرِ يَا لَيْلَةً

لَيْلَى : هَلْ حَفِظْتِ سُوْرَةَ الْقَدْرِ؟

حَسَنَةُ : لَمَّا يَا أُخْتِي، هَلْ حَفِظْتِ يَا لَيْلَةُ ؟

لَيْلَى : نَعَمْ، أَحْفَظُهَا، وَلَكِنِّي لَا أَعْرِفُ مَعْنَاهَا

حَسَنَةُ : حَيَّا نَدْرُسُهَا مَعًالَيْلَى : حَيَّا بِنَا







Friday, 14 November 2025

Peningkatan Mutu Pendidik Muhammadiyah

Bimbingan Teknis Pembelajaran Mendalam, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Penguatan Karakter Digelar di Jakarta

JAKARTA BARAT – Sebanyak 200 guru dari berbagai sekolah Muhammadiyah se-Jakarta berkumpul untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif bertajuk "Pembelajaran Mendalam, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Penguatan Karakter." Acara ini diselenggarakan selama lima hari, mulai tanggal 12 hingga 16 November 2025, bertempat di Hotel Novotel Gajah Mada, Jakarta Barat.

Bimtek ini bertujuan untuk membekali tenaga pendidik dengan keterampilan abad ke-21 yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Materi yang disampaikan berfokus pada empat pilar utama:

  1. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Strategi untuk menciptakan proses belajar yang lebih bermakna dan terstruktur.
  2. Koding: Pengenalan dasar pemrograman sebagai bekal literasi digital.
  3. Kecerdasan Artifisial (AI): Pemanfaatan teknologi AI untuk efisiensi pengajaran dan pembelajaran.
  4. Penguatan Karakter: Integrasi nilai-nilai moral dan etika dalam kurikulum.

Salah satu peserta Bimtek, Tamim Hamzah, S.Pd.I, M.Pd., guru Bahasa Arab dari SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, menyatakan antusiasmenya. "Sebagai guru bahasa, kami dituntut untuk tidak hanya mengajar bahasa, tetapi juga mengintegrasikan teknologi modern. Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang bagaimana AI dan koding bisa mendukung pembelajaran Bahasa Arab, serta bagaimana menguatkan karakter Islami melalui metode pengajaran yang mendalam," ujar Tamim.

Para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh ke dalam praktik mengajar sehari-hari, sehingga lulusan sekolah Muhammadiyah siap menghadapi tantangan global dan memiliki daya saing tinggi.

Acara yang berlangsung tertib dan penuh interaksi ini ditutup pada hari Minggu, 16 November 2025, dengan harapan agar para guru menjadi agen perubahan digital di lingkungan sekolah masing-masing.


(Tamim Hamzah/SMK Muhammadiyah 1 Jakarta, 16/11/2025)

Monday, 27 October 2025

Cinta dan Doa untuk Vini Zulva Nurhadiyani

 

Vini Zulva Nurhadiyani keponakan nomor dua dari kakak keduaku yaitu Teh Ai. Asal muasal namamu yang terlahir di Garut harus meminta sama Ajengan. Mungkin mamah papahmu (A Ajang) pernah bercerita. 

Saat kamu terlahir menjelang aqiqah, om (saya) diajak Bapak aki (panggilan kakek Vini) untuk meminta nama yang indah dan harus menemui Kakek di Garut kota yaitu Aki Haji Ajengan Holil (Rohimahumulloh). Karena beliau ahlinya bahasa Arab dan Ajengan yang disegani di sekitar Masjid Agung Garut sudah pasti mempunyai nama-nama penuh makna.

Lalu muncullah  2 pilihan nama yang cantik, sampai namamu yang kini diabadikan di akte lahirlah yang terpilih. Di mana Aki Holil awalnya hanya memberi nama Zulva Nurhadiyani (yang artinya cahaya 2 petunjuk, Alqur'an dan Sunnah) dan memberikan kebebasan orang tuamu untuk menambah di awal. 

Ternyata mamah papahmu sepakat untuk menambahkan "Vini" di awal. Hingga hari aqiqah tiba tertulis namamu Vini Zulva Nurhadiyani. 

Vini kecil anak yang aktif berwatak keras dan mandiri. Tak terasa kini sudah dewasa hingga menjadi perempuan cantik, pintar dan tangguh. Barakallah fiik.

Jangan hilang baktimu untuk mamah papah serta sayangmu terhadap saudara-saudaramu. Tetap menjadi perempuan penyayang dan memperjuangkan dalam membela kaum perempuan yang lemah.

Kini Vini dalam hitungan beberapa hari lagi akan menuju akad dan pelaminan bersama pria pilihan Vini berasal dari kota pahlawan Pattimura.

Setelah menikah nanti, apapun dan siapapun Vini akan menjadi tanggung jawab suami sepenuhnya. Semoga Vini mampu menjadi istri Sholehah.

Tak ada kata yang terucap melainkan rasa syukur dan doa terbaik untuk Vini dan calon suami semoga diberikan kesehatan, kelancaran, kemudahan dan keberkahan hingga sah. Serta Istiqomah menjadi cahaya 2 petunjuk (Alqur'an dan Sunnah).

Monday, 1 September 2025

PERCAKAPAN BAHASA ARAB KELAS 12 BAB 1 (وَسَائِلُ الاِتِّصَالِ)

 وَسَائِلُ الاِتِّصَالِ

مُحَمَّدٌ: ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

كَرِيْمٌ: وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. نَهَارُكَ السَّعِيدُ يَا مُحَمَّدُ

مُحَمَّدٌ: سَعِيدٌ مُبَارَكٌ يَا كَرِيْمُز هَلْ لَكَ مَحْمُوْلٌ؟

كَرِيْمٌ: نَعَمْ، لِيْ مَحْمُوْلٌ.

مُحَمَّدٌ: كَمْ مَحْمُوْلًا لَكَ؟

كَرِيمُ : لِي مَحْمُولُ وَاحِدٌ

مُحَمَّدُ : كَيْفَ تَسْتَعْمِلُهُ؟

كَرِيْمٌ : أَسْتَعْمِلُهُ لِاِتِّصَالِ أُسْرَتي وَأَصْدِقَائِي.

مُحَمَّدُ : كَيْفَ حَالُ أُسْرَتِكَ؟

كَرِيمُ : أَسْرَتي بِخَيْرٍ الْحَمْدُ للهِ.

مُحَمَّدُ : إِلَى اللَّقَاءِ!

كَرِيمُ : مَعَ السَّلَامَةِ!

Tuesday, 8 July 2025

Healing ke Balai Pustaka Semakin Cinta Literasi




Healing ke Balai Pustaka Semakin Cinta Literasi

Hari ini Selasa, 08 Juli 2025 mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang berharga dari perjalanan kami.

Saya dan keluarga menyempatkan pergi sekadar healing ke ibu kota untuk mengisi liburannya anak-anak.

Awalnya anak kami minta dibelikan buku novel jika pergi jalan-jalan. Entah mengapa istri membawa ke Balai Pustaka yang belum pernah kami tahu dan harus mencari-cari informasi lewat maps. Ditemukanlah alamat dan tempatnya yang ternyata sering saya lewati saat-saat kuliah di UIJ. Tepatnya di jalan Bunga Matraman.

Setibanya di lokasi kami disambut langsung dengan pantun khusus dari seorang penjaga yang ternyata Direktur Utamanya Balai Pustaka yaitu Bapak Achmad Fachrodji. Berkenalanlah kami sampai diperlihatkan buku beliau yang diterbitkan Balai Pustaka, di tahun 2019 (Cetakan Pertama, dan 2021 (Cetakan Kedua). Judul bukunya “Semakin Santun Karena Berpantun.”

Berbagai jenis pantun ia tuliskan: pantun pergaulan, pantun bisnis, pantun pesta demokrasi, pantun media sosial, pantun minat baca, hingga pantun tentang Corona.

Kepuasan kami tak hanya sampai di toko bukunya. Kami diajak jalan-jalan sampai ke lantai 3 mengenal buku dari semasa zaman penjajahan Belanda.

Dan inilah pantun sambutan Bapak Achmad Fachrodji saat kami datang:

Indah berkembang bunga cempaka 

Sinar rembulan penghias angkasa 

Selamat datang di balai pustaka 

Istana peradaban kebangsaan bangsa.

Dengan healingnya kami ke Balai Pustaka semakin bertambah cinta kami akan literasi.

Oleh: Tamim Hamzah

Tuesday, 20 May 2025

BANK SOAL BAHASA ARAB KELAS XI SMK/SMA MUHAMMADIYAH

Selamat mengerjakan soal-soal Bahasa Arab Kelas XI semester genap ini dan semoga bermanfaat. Sampaikan kritik dan saran di kolom komentar.

Perhatikan kalimat rumpang berikut:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸... وَاسْمُهُ اَلْأَصِيلُ مُحَمَّدْ دَرْوِيشْ 

Kota kelahiran yang tepat untuk melengkapi kalimat rumpang di atas adalah  ….

بِجَأكَرْتَا

بِسُوْرَابَايَا

بِبَنْدُونْج 

بِيُوجِيَاكَرْتَا   

بِبَكَاسِيْ


Perhatikan kalimat rumpang berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ    . . .    أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا 

Fi’il Amr yang tepat untuk melengkapi kalimat rumpang di atas adalah  ….

اِعْلَمَا

اِعْلَمُوْا

اِعْلَمْنَ 

اِعْلَمْ   

اِعْلَمِيْ


Perhatikan kalimat berikut:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸

Terjemahan yang tepat dari kalimat di atas adalah ...


Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus tahun 1676

Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus tahun 1878

Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus tahun 1868

Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 10 Agustus tahun 1868

Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 11 Agustus tahun 1868


Perhatikan kalimat berikut:

وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ 

Terjemahan yang tepat dari kalimat di atas adalah ...

Pada usia 13 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah.

Pada usia 14 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah.

Pada usia 15 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah. 

Pada usia 16 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah.

Pada usia 17 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah.



Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

 " أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ " وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ 

Jumlah fi’il amr yang ada pada teks wacana di atas adalah ...

1

4

5


Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : صَبَاحُ الخَيرِ أَيُّهَا الطُّلاَّب 

الطلاب : صَبَاحُ النُّورِ يَا أُستَاذ

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

الطلاب : طَبعًا، إِن شَاءَ اللهُ

Jumlah fi’il amr yang ada pada teks percakapan di atas adalah ...

3

4

5


Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸ بِيوجِيَاكَرْتَا وَاسْمُهُ اَلْأَصِيلُ مُحَمَّدْ دَرْوِيشْ . وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ . وَسَكَنَ هُنَاكَ خَمْسَ سَنَوَاتٍ ثُمَّ عَادَ إِلَى إِنْدُونِيسْيَا . وَبَدَأَ أَحْمَدْ دَخْلَان يُفَكِّرُ عَنْ إِصْلَاحِ أُمَّةٍ اَلْمُسْلِمِينَ فَقَامَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ بِالدَّعْوَةِ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنْ اَلْمُنْكَرِ. 

Pernyataan yang tidak sesuai dengan wacana di atas adalah  ...

Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus tahun 1868

Nama asli Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy

Ahmad Dahlan pergi ke Madinah untuk ibadah haji

Pada usia 15 tahun Ahmad Dahlan pergi ke Mekkah

Ahmad Dahlan tinggal di Mekkah selama 5 tahun


Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

 " أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ  . . .  أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ " وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ 

Fi’il Amr yang tepat untuk melengkapi kalimat rumpang di atas adalah ... .

اِعْلَمَا

اِعْلَمُوْا

اِعْلَمْنَ 

اِعْلَمْ   

اِعْلَمِيْ   


Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

 " أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ  اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ " وَ  . . .   أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ 

Fi’il Amr yang tepat untuk melengkapi kalimat rumpang di atas adalah ... .

اِعْلَمَا

اِعْلَمُوْا

اِعْلَمْنَ 

اِعْلَمْ   

اِعْلَمِيْ   


Perhatikan kalimat acak berikut:

أُوغُسْطُسْ - وُلِدَ - اَلتَّارِيخِ - ۱- سَنَةَ - فِي - ۱۸٦۸ – أَحْمَدْ دَخْلَانْ

Susunan kalimat acak menjadi kalimat yang sempurna dari kata-kata di atas adalah  ....

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱۸٦۸ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸ 

اَلتَّارِيخِ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي وُلِدَ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸

وُلِدَ أُوغُسْطُسْ فِي اَلتَّارِيخِ  ۱  أَحْمَدْ دَخْلَانْ ۱۸٦۸  سَنَةَ.

وُلِدَ أُوغُسْطُسْ فِي اَلتَّارِيخِ  ۱  أَحْمَدْ دَخْلَانْ   سَنَةَ ۱۸٦۸.


Perhatikan kalimat berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il amr dari kata … .

عَمِلَ

عَامَلَ

تَعَلَّمَ

عَلَّمَ

عَلِمَ 


Perhatikan kalimat acak berikut:

لِنَفْسِهِ - اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ - أَحْمَدْ دَخْلَان -  كَتَبَ - فِي - نَصِيحَةً 

Susunan kalimat acak menjadi kalimat yang sempurna dari kata-kata di atas adalah  ....

لِنَفْسِهِ كَتَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان نَصِيحَةً فِي اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ 

نَصِيحَةً كَتَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان فِي اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ لِنَفْسِهِ 

كَتَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان نَصِيحَةً فِي اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ لِنَفْسِهِ 

اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ كَتَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان نَصِيحَةً فِي لِنَفْسِهِ

أَحْمَدْ دَخْلَان نَصِيحَةً كَتَبَ فِي اَللُّغَةِ اَلْعَرَبِيَّةِ لِنَفْسِهِ


Perhatikan teks percakapan berikut:

فَوْزِيْ  : مَاذَا بِيَدِكَ يَا فَرْحَان؟

فَرْحَان : بِيَدِيْ كِتَابُ عِلْمِ التَّارِيْخِ

Berdasarkan percakapan di atas, apa yang dibawa Farhan?

Kitab Tafsir Quran

Kitab Ilmu Sejarah

Kitab Ilmu Fiqih

Kitab Ilmu Hadis

Kitab Ilmu Nahwu


Perhatikan teks percakapan berikut:

اَلْأُسْتَاذَةُ : يَا فَاطِمَة مِن فَضلِك، خُذِي ذَلِكَ الْكِتَاب!

فَاطِمَة   : بِكُلِّ السُّرُورِ، أَهَذَا الْكِتَاب؟

اَلْأُسْتَاذَةُ : نَعَمْ، هَذَا الْكِتَابُ، شُكرًا.

فَاطِمَة   : عَفْوًا، هَلْ الْكِتَابُ يَبْحَثُ عَن أَحْمَدْ دَخْلَانْ ، فَهَلْ قَرَأْتِ؟

اَلْأُسْتَاذَةُ : ...

Kalimat yang sesuai untuk melengkapi percakapan di atas adalah ….

نَعَمْ، هَذَا الكِتَابُ، شُكْرًا 

نَعَمْ, قَرَأتُهُ وَالحَمدُ لِلّهِ 

نَعَمْ، اَلْكِتَابُ يَبْحَثُ عَن أَحْمَدْ دَخْلَانْ 

صَبَاحُ الخَيرِ أَيُّهَا الطُّلاَّب

الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشرُونَ


Perhatikan teks percakapan tidak lengkap berikut:

فَوْزِيْ  : مَاذَا بِيَدِكَ يَا فَرْحَان؟

فَرْحَان : ...

Jawaban yang sesuai untuk pertanyaan Fauzi adalah …

صَبَاحُ الْخَيْرِ يَا فَوْزِي

بِيَدِيْ كِتَابُ عِلْمِ التَّارِيْخِ 

مَسَاءُ الْخَيْرِ يَا فَوْزِي

أَهْلًا وَسَهْلًا  يَا فَوْزِي

كَيْفَ حَالُكَ يَا فَوْزِي


Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

الطلاب : طَبعًا، إِن شَاءَ اللهُ.

Dari percakapan di atas, makna kalimat yang bercetak tebal adalah ….

Tutup buku kalian!

Baca buku kalian!

Baca catatan kalian!

Buka buku kalian! 

Buka halaman 23!


Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

الطلاب : طَبعًا، إِن شَاءَ اللهُ.

Dari percakapan di atas, makna kalimat yang bercetak tebal adalah ….

Halaman 23

Halaman 43

Halaman 33

Halaman 32 

Halaman 22


Perhatikan teks percakapan berikut:

اَلْأُسْتَاذَةُ : يَا فَاطِمَة مِن فَضلِك، خُذِي ذَلِكَ الْكِتَاب!

فَاطِمَة   : بِكُلِّ السُّرُورِ، أَهَذَا الْكِتَاب؟

اَلْأُسْتَاذَةُ : نَعَمْ، هَذَا الْكِتَابُ، شُكرًا.

فَاطِمَة   : عَفْوًا، هَلْ الْكِتَابُ يَبْحَثُ عَن أَحْمَدْ دَخْلَانْ، فَهَلْ قَرَأْتِ؟

اَلْأُسْتَاذَةُ : نَعَمْ, قَرَأْتُهُ وَالْحَمْدُ لِلّهِ

Dari percakapan di atas, Ustadzah sudah membaca buku tentang ….

Nabi Muhammad

Sahabat Nabi

Ahmad Dahlan Keluarga Ustadzah

Sejarah para Nabi


Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

Kata yang bercetak tebal merupakan fi’il amr yang berasal dari fi’il madhi yaitu … .

جَلَسَ

قَطَعَ

خَلَقَ

فَاتَحَ  

فَتَحَ 



Perhatikan tabel berikut:

يَضْرِبُ يَأْكُلُ يَجْلِسُ يَكْتُبُ يَلْبَسُ هُوَ اَلْفِعْلُ الْمُضِارِعُ

... اُأْكُلْ= كُلْ اِجْلِسْ اُكْتُبْ اِلْبَسْ أَنْتَ فِعْلُ الْأَمْرِ

... كُلِيْ اِجْلِسِيْ اُكْتُبِيْ اِلْبَسِيْ أَنْتِ

... كُلَا اِجْلِسَا اُكْتُبَا اِلْبَسَا أَنْتُمَا

... كُلُوْا اِجْلِسُوْا اُكْتُبُوْا اِلْبَسُوْا أَنْتُمْ

... كُلْنَ اِجْلِسْنَ اُكْتُبْنَ اِلْبَسْنَ أَنْتُنَّ

Bentuk fi’il amr dhomir أَنْتَ   dari fi’il mudhori  يَضْرِبُsebagaimana pada table di atas adalah … .

اِضْرِبْ 

اِضْرِبَا

اِضْرِبُوْا

اِضْرِبِيْ

اِضْرِبْنَ


Perhatikan tabel berikut:

يَضْرِبُ يَأْكُلُ يَجْلِسُ يَكْتُبُ يَلْبَسُ هُوَ اَلْفِعْلُ الْمُضِارِعُ

... اُأْكُلْ= كُلْ اِجْلِسْ اُكْتُبْ اِلْبَسْ أَنْتَ فِعْلُ الْأَمْرِ

... كُلِيْ اِجْلِسِيْ اُكْتُبِيْ اِلْبَسِيْ أَنْتِ

... كُلَا اِجْلِسَا اُكْتُبَا اِلْبَسَا أَنْتُمَا

... كُلُوْا اِجْلِسُوْا اُكْتُبُوْا اِلْبَسُوْا أَنْتُمْ

... كُلْنَ اِجْلِسْنَ اُكْتُبْنَ اِلْبَسْنَ أَنْتُنَّ

Bentuk fi’il amr dhomir أَنْتِ   dari fi’il mudhori  يَضْرِبُsebagaimana pada table di atas adalah … .

اِضْرِبْ 

اِضْرِبَا

اِضْرِبُوْا

اِضْرِبِيْ

اِضْرِبْنَ



Perhatikan tabel berikut:

يَضْرِبُ يَأْكُلُ يَجْلِسُ يَكْتُبُ يَلْبَسُ هُوَ اَلْفِعْلُ الْمُضِارِعُ

... اُأْكُلْ= كُلْ اِجْلِسْ اُكْتُبْ اِلْبَسْ أَنْتَ فِعْلُ الْأَمْرِ

... كُلِيْ اِجْلِسِيْ اُكْتُبِيْ اِلْبَسِيْ أَنْتِ

... كُلَا اِجْلِسَا اُكْتُبَا اِلْبَسَا أَنْتُمَا

... كُلُوْا اِجْلِسُوْا اُكْتُبُوْا اِلْبَسُوْا أَنْتُمْ

... كُلْنَ اِجْلِسْنَ اُكْتُبْنَ اِلْبَسْنَ أَنْتُنَّ

Bentuk fi’il amr dhomir أَنْتُمَا   dari fi’il mudhori  يَضْرِبُsebagaimana pada table di atas adalah … .

اِضْرِبْ 

اِضْرِبَا

اِضْرِبُوْا

اِضْرِبِيْ

اِضْرِبْنَ



Perhatikan tabel berikut:

يَضْرِبُ يَأْكُلُ يَجْلِسُ يَكْتُبُ يَلْبَسُ هُوَ اَلْفِعْلُ الْمُضِارِعُ

... اُأْكُلْ= كُلْ اِجْلِسْ اُكْتُبْ اِلْبَسْ أَنْتَ فِعْلُ الْأَمْرِ

... كُلِيْ اِجْلِسِيْ اُكْتُبِيْ اِلْبَسِيْ أَنْتِ

... كُلَا اِجْلِسَا اُكْتُبَا اِلْبَسَا أَنْتُمَا

... كُلُوْا اِجْلِسُوْا اُكْتُبُوْا اِلْبَسُوْا أَنْتُمْ

... كُلْنَ اِجْلِسْنَ اُكْتُبْنَ اِلْبَسْنَ أَنْتُنَّ

Bentuk fi’il amr dhomir أَنْتُمْ   dari fi’il mudhori  يَضْرِبُsebagaimana pada table di atas adalah … .

اِضْرِبْ 

اِضْرِبَا

اِضْرِبُوْا

اِضْرِبِيْ

اِضْرِبْنَ


Perhatikan tabel berikut:

يَضْرِبُ يَأْكُلُ يَجْلِسُ يَكْتُبُ يَلْبَسُ هُوَ اَلْفِعْلُ الْمُضِارِعُ

... اُأْكُلْ= كُلْ اِجْلِسْ اُكْتُبْ اِلْبَسْ أَنْتَ فِعْلُ الْأَمْرِ

... كُلِيْ اِجْلِسِيْ اُكْتُبِيْ اِلْبَسِيْ أَنْتِ

... كُلَا اِجْلِسَا اُكْتُبَا اِلْبَسَا أَنْتُمَا

... كُلُوْا اِجْلِسُوْا اُكْتُبُوْا اِلْبَسُوْا أَنْتُمْ

... كُلْنَ اِجْلِسْنَ اُكْتُبْنَ اِلْبَسْنَ أَنْتُنَّ

Bentuk fi’il amr dhomir أَنْتُنَّ   dari fi’il mudhori  يَضْرِبُsebagaimana pada table di atas adalah … .

اِضْرِبْ 

اِضْرِبَا

اِضْرِبُوْا

اِضْرِبِيْ

اِضْرِبْنَ



Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸ بِيوجِيَاكَرْتَا وَاسْمُهُ اَلْأَصِيلُ مُحَمَّدْ دَرْوِيشْ . وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ . وَسَكَنَ هُنَاكَ خَمْسَ سَنَوَاتٍ ثُمَّ عَادَ إِلَى إِنْدُونِيسْيَا . وَبَدَأَ أَحْمَدْ دَخْلَان يُفَكِّرُ عَنْ إِصْلَاحِ أُمَّةٍ اَلْمُسْلِمِينَ فَقَامَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ بِالدَّعْوَةِ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنْ اَلْمُنْكَرِ. 

Berdasarkan teks wacana di atas, usia Ahmad Dahlan saat pergi ke Mekkah untuk haji dan mempelajari ilmu agama adalah ... .


15 tahun 

20 tahun

25 tahun

45 tahun

5 tahun


Perhatikan teks wacana berikut:

الْقِرَاءَةُ:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أُوغُسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸ بِيوجِيَاكَرْتَا وَاسْمُهُ اَلْأَصِيلُ مُحَمَّدْ دَرْوِيشْ . وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ . وَسَكَنَ هُنَاكَ خَمْسَ سَنَوَاتٍ ثُمَّ عَادَ إِلَى إِنْدُونِيسْيَا . وَبَدَأَ أَحْمَدْ دَخْلَان يُفَكِّرُ عَنْ إِصْلَاحِ أُمَّةٍ اَلْمُسْلِمِينَ فَقَامَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ بِالدَّعْوَةِ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنْ اَلْمُنْكَرِ. 

Berdasarkan teks wacana di atas, Ahmad Dahlan tinggal di kota sebelum kembali ke Indonesia selama ... .

15 tahun 

20 tahun

25 tahun

45 tahun

5 tahun


Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

Kata yang bermakna “bacalah”  pada teks percakapan di atas adalah … .

إِفتَحُوا

كُتُبَكُم

أَيُّ صَفحَةٍ

إِقرَءُوا

وَلَا تَمزَحُوا

Perhatikan teks percakapan berikut:

الأستاذ : إِفتَحُوا كُتُبَكُم!

الطلاب : أَيُّ صَفحَةٍ يَا أُستَاذ؟

الأستاذ : الصَّفحَةَ الثَّالِثَةَ وَعِشْرِيْنَ. إِقرَءُوا وَلَا تَمزَحُوا!

Kata yang bermakna “Bukalah”  pada teks percakapan di atas adalah … .

إِفتَحُوا

كُتُبَكُم

أَيُّ صَفحَةٍ

إِقرَءُوا

وَلَا تَمزَحُوا


Perhatikan teks wacana berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ » وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ ، فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ ، كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء

Pada paragraf di atas yang mengandung makna “jadilah muslim yang kuat dan jangan menjadi muslim yang lemah” adalah … .

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ

وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ 

وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ 

فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ

كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء 


Perhatikan teks wacana berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ » وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ ، فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ ، كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء

Pada paragraf di atas yang mengandung makna “maka ikutilah ajarannya akan tetapi jangan menganggapnya suci” adalah … .

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ

وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ 

وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ 

فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ

كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء 

Perhatikan teks wacana berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ » وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ ، فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ ، كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء

Pada paragraf di atas yang mengandung makna “wahai siswa ketahuilah bahwa Ahmad Dahlan merupakan salah satu tokoh reformasi” adalah … .

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ

وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ 

وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ 

فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ

كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء 


Perhatikan teks wacana berikut:

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ فِي إِنْدُونِيسْيَا . وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ » وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ هُوَ تَحْقِيقُ مُجْتَمَعِ الْمُسْلِمِينَ وَفْقًا لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ ، فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ ، كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء

Pada paragraf di atas yang mengandung makna “dan wahai siswi ketahuilah bahwa Ahmad Dahlan merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah” adalah … .

أَيُّهَا اَلطَّالِبُ اِعْلَمْ أَنَّ أَحْمَدْ دَخْلَان مِنْ أَحَدِ زُعَمَاءِ اَلْإِصْلَاحِ

وَيَا أَيُّهَا اَلطَّالِبَةُ اِعْلَمِي أَنَّهُ مُؤَسِّسُ جَمْعِيَّةِ اَلْمُحَمَّدِيَّةِ 

وَاعْلَمُوا أَيُّهَا اَلطُّلَّابُ أَنَّ اَلْغَرْضَ مِنْ إِنْشَاءٍ مُحَمَّدِيَّةٍ 

فَاتَّبَعُوا تَعْلِيمَهُ وَلَكِنْ لَا تُقَدِّسُوا نَفْسَهُ

كُوْنُوا مُسْلِمِينَ أَقْوِيَاءً وَلَا تَكُونُوا مُسْلِمِينَ ضُعَفَاء 


Perhatikan kalimat berikut:

تَفَكَّرَ اَلْعُلَمَاءُ وَسَأَلَ 

Makna kosa kata bercetak tebal sesuai dengan gambar ….

 

 

Perhatikan kalimat berikut:

وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ

Makna kosa kata bercetak tebal sesuai dengan gambar ….

 


Perhatikan kalimat berikut:

وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ

Makna kosa kata bercetak tebal sesuai dengan gambar ….


Perhatikan kalimat berikut:

وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ

Makna kosa kata bercetak tebal sesuai dengan gambar ….

Perhatikan kalimat berikut:

تَفَكَّرَ اَلْعُلَمَاءُ وَسَأَلَ 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan wazan … 

أَفْعَلَ 

فَاعَلَ

تَفَعَّلَ 

تَفَاعّلَ

اِفْتَعَلَ


Perhatikan kalimat berikut:

تَفَكَّرَ اَلْعُلَمَاءُ وَسَأَلَ 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan tambahan … .

1 huruf

2 huruf

3 huruf

4 huruf

5 huruf

Perhatikan kalimat berikut:

شَاهَدَ اَلْمُجَدِّدُونَ اَلْأُمَّةَ اَلْإِسْلَامِيَّةَ بَعِيدًا عَنْ اَلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan wazan … 

أَفْعَلَ 

فَاعَلَ 

تَفَعَّلَ 

تَفَاعّلَ

اِفْتَعَلَ


Perhatikan kalimat berikut:

شَاهَدَ اَلْمُجَدِّدُونَ اَلْأُمَّةَ اَلْإِسْلَامِيَّةَ بَعِيدًا عَنْ اَلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan tambahan … .

1 huruf

2 huruf

3 huruf

4 huruf

5 huruf


Perhatikan kalimat berikut:

فَسَدَ نَقَاءَ تَوْحِيدِهِمْ بِتَعْلِيمِ اَلطُّرُقِ اَلصُّوفِيَّةِ اَلَّتِي اِنْتَشَرَتْ مُنْذُ ثَلَاثَةِ عَشَرَ قَرْنًا 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan wazan … 

أَفْعَلَ 

فَاعَلَ 

تَفَعَّلَ 

تَفَاعّلَ

اِفْتَعَلَ 


Perhatikan kalimat berikut:

فَسَدَ نَقَاءَ تَوْحِيدِهِمْ بِتَعْلِيمِ اَلطُّرُقِ اَلصُّوفِيَّةِ اَلَّتِي اِنْتَشَرَتْ مُنْذُ ثَلَاثَةِ عَشَرَ قَرْنًا

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan tambahan … .

1 huruf

2 huruf

3 huruf

4 huruf

5 huruf


Perhatikan kalimat berikut:

وَأَحْدَثُوا فِي شَرْعِ اَللَّهِ وَيَعْتَقِدُونَ اَلْخُرَافَاتِ وَيُشْرِكُونَ بِاَللَّهِ 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan wazan … 

أَفْعَلَ 

فَاعَلَ 

تَفَعَّلَ 

تَفَاعّلَ

اِفْتَعَلَ




Perhatikan teks wacana berikut:

اَلْقِرَاءَةُ: كُلُّ إِنْسَانٍ يَعِيْشُ مَعَ غَيْرِهِمْ. فَيَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ إِلَى الْاِتِّصَالِ بَيْنَهُمْ. اِتَّصَلَ الإِنْسَانُ بِالْكَلاَمِ مُبَاشِرًا إِذَا تَقَارَبُوْا بَيْنَهُمْ. 

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan wazan … 

أَفْعَلَ 

فَاعَلَ 

تَفَعَّلَ 

تَفَاعّلَ 

اِفْتَعَلَ


Perhatikan teks wacana berikut:

اَلْقِرَاءَةُ: كُلُّ إِنْسَانٍ يَعِيْشُ مَعَ غَيْرِهِمْ. فَيَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ إِلَى الْاِتِّصَالِ بَيْنَهُمْ. اِتَّصَلَ الإِنْسَانُ بِالْكَلاَمِ مُبَاشِرًا إِذَا تَقَارَبُوْا بَيْنَهُمْ.

Berdasarkan kalimat di atas, kata yang bercetak tebal merupakan fi'il maziid dengan tambahan … .

1 huruf

2 huruf

3 huruf

4 huruf

5 huruf



Perhatikan kalimat  acak berikut  !

 عَائِشَةُ - فِي - تَشَجَّعَتْ - الْمُسَابَقَةِ

Susunan kalimat sempurna dari kata acak di atas adalah … .

فِي تَشَجَّعَتْ عَائِشَةُ الْمُسَابَقَةِ

عَائِشَةُ فِي تَشَجَّعَتْ الْمُسَابَقَةِ

تَشَجَّعَتْ عَائِشَةُ فِي الْمُسَابَقَةِ

فِي تَشَجَّعَتْ الْمُسَابَقَةِ عَائِشَةُ 

تَشَجَّعَتْ فِي عَائِشَةُ الْمُسَابَقَةِ


Perhatikan teks wacana berikut:

شَاهَدَ اَلْمُجَدِّدُونَ اَلْأُمَّةَ اَلْإِسْلَامِيَّةَ بَعِيدًا عَنْ اَلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَأَحْدَثُوا فِي شَرْعِ اَللَّهِ وَيَعْتَقِدُونَ اَلْخُرَافَاتِ وَيُشْرِكُونَ بِاَللَّهِ . فَتَجَمَّدَتْ أَفْكَارُ اَلْمُسْلِمِينَ حَتَّى دَمَّرَتْ رُوحَ جِهَادِهِمْ وَاجْتِهَادِهِمْ وَظَهَرَتْ مَظَاهِرُ اَلتَّقْلِيدِ . فَظَهَرَ مَوْقِفُ اَلتَّعَصُّبِ حَتَّى تَفَرَّقَ اَلْمُسْلِمُونَ إِلَى فِرَقٍ وَمَذَاهِبَ .

Yang termasuk fi’il maziid dari teks wacana di atas adalah ….

شَاهَدَ - تَفَرَّقَ

فِرَقٍ وَمَذَاهِبَ

مَوْقِفُ اَلتَّعَصُّبِ

مَظَاهِرُ اَلتَّقْلِيدِ

ظَهَرَتْ – ظَهَرَ


Perhatikan teks wacana berikut:

وُلِدَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ فِي اَلتَّارِيخِ ۱ أَغُوسْطُسْ سَنَةَ ۱۸٦۸ بِيوجِيَاكَرْتَا وَاسْمُهُ اَلْأَصِيلُ مُحَمَّدْ دَرْوِيشْ . وَفِي خَمْسَةَ عَشَرَةَ مِنْ عُمْرِهِ ذَهَبَ أَحْمَدْ دَخْلَان إِلَى مَكَّةَ لِأَدَاءِ اَلْحَجِّ وَالتَّعَلُّمِ فِي عُلُومِ اَلدِّينِ . وَسَكَنَ هُنَاكَ خَمْسَ سَنَوَاتٍ ثُمَّ عَادَ إِلَى إِنْدُونِيسْيَا . وَبَدَأَ أَحْمَدْ دَخْلَان يُفَكِّرُ عَنْ إِصْلَاحِ أُمَّةٍ اَلْمُسْلِمِينَ فَقَامَ أَحْمَدْ دَخْلَانْ بِالدَّعْوَةِ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنْ اَلْمُنْكَرِ.

 Tema yang sesuai dengan teks wacana di atas adalah …. 

Ahmad Dahlan 

Tanah kelahiran

Indonesia merdeka

Yogyakarta tercinta

Amar ma'ruf Nahi Munkar


Perhatikan teks wacana berikut:

تَفَكَّرَ اَلْعُلَمَاءُ وَسَأَلَ : لِمَاذَا تَأَخَّرَ اَلْمُسْلِمُونَ وَتَقَدَّمَ اَلْآخَرُونَ؟

فَيَنْهَضُ اَلْعُلَمَاءُ بِحَرَكَةِ اَلْإِصْلَاحِ فِي اَلْإِسْلَامِ وَهُمْ زُعَمَاءُ اَلْإِصْلَاحِ

أَوْ اَلْمُجَدِّدُونَ . وَمِنْهُمْ اِبْنُ تَيْمِيَّة ، وَمُحَمَّدْ عَلِي بَاشَا ،

وَجَمَالُ اَلدِّينِ اَلْأَفْغَانِيِّ ، وَمُحَمَّدْ عَبْدُهْ ، وَرَشِيدْ رِضَا ،

وَمُحَمَّدْ إِقْبَالِ وَغَيْرُ ذَالِكَ .

Berdasarkan wacana di atas, yang termasuk tokoh pembaharu Islam di antaranya … .

Ibnu Umar, Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal

Ibnu Taimiyah, Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal

Ibnu Umar, Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Faqih, Muhammad Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal

Ibnu Taimiyyah, Muhammad Ali Pasha, Ammar bin Yasir, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal

Ibnu Taimiyyah, Muhammad Ali Pasha, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridho dan Muhammad Ikhsan

 

Perhatikan kalimat berikut:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

Kata "أَسْتَغْفِرُ " merupakan fiil mazid dengan tambahan  ... huruf.

2

4

5

6


Wednesday, 4 December 2024

Modul Al Islam Kelas 12: Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga

 

MODUL AL-ISLAM KELAS 12

Kelas/Semester           :  XII/ Semester 5      

Materi Pokok/Tema :  Indahnya Membangun Mahligai Rumah Tangga

 

I.          MATERI

A. Anjuran Menikah

Pernikahan adalah sunnatullah yang berlaku umum bagi semua makhluk Nya. Al-Qur`ān

menyebutkan dalam Q.S. adz-zariyat /51:49.

                وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.“

 

Islam sangat menganjurkan pernikahan, karena dengan pernikahan manusia akan berkembang, sehingga kehidupan umat manusia dapat dilestarikan. Tanpa pernikahan regenerasi akan terhenti, kehidupan manusia akan terputus, dunia pun akan sepi dan tidak berarti, karena itu Allah Swt. Mensyariatkan pernikahan sebagaimana difirmankan dalam Q.S. an-Nahl/16:72.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Artinya:

“ Allah menjadikan dari kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dan istri-istri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.

Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah.”

 

Ayat tersebut menguatkan rangsangan bagi orang yang merasa belum sanggup, agar tidak khawatir karena belum cukup biaya, karena dengan pernikahan yang benar dan ikhlas, Allah Swt. akan melapangkan rezeki yang baik dan halal untuk hidup berumah tangga, sebagaimana dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah Swt. Akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Swt. Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” ( Q.S. an-Nur/24:32).

 

Rasulullah juga banyak menganjurkan kepada para remaja yang sudah mampu untuk segera menikah agar kondisi jiwanya lebih sehat, seperti dalam hadis berikut. 

“Wahai para pemuda! Siapa saja di antara kalian yang sudah mampu maka menikahlah, karena pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Jika belum mampu maka berpuasalah, karena berpuasa dapat menjadi benteng (dari gejolak nafsu)”. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

 

B. Ketentuan Pernikahan dalam Islam

1. Pengertian Pernikahan

Secara bahasa, arti “nikah” berarti “mengumpulkan, menggabungkan, atau menjodohkan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”nikah” diartikan sebagai “perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi) atau “pernikahan”. Sedang menurut syari’ah, “nikah” berarti akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya yang menimbulkan hak dan kewajiban masingmasing.

Dalam Undang-undang Pernikahan RI (UUPRI) Nomor 1 Tahun 1974, definisi atau pengertian perkawinan atau pernikahan ialah "ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pernikahan sama artinya dengan perkawinan. Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (Q.S. an-Nisa/4:3).

 

2. Tujuan Pernikahan

Seseorang yang akan menikah harus memiliki tujuan positif dan mulia untuk membina keluarga sakinah dalam rumah tangga, di antaranya sebagai berikut.

a. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi Rasulullah saw., bersabda:

 

Artinya:

“Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda:‟wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Nikahilah wanita karena agamanya, kalau tidak kamu akan celaka" (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

 

b. Allah Swt. berfirman:

 

Artinya:

”Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan

Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kebesaran Allah Swt.) bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. arRμm/30:21).

  

c. Untuk membentengi akhlak

Rasulullah saw. bersabda: “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

d. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda:

“Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!”. Mendengar sabda

Rasulullah para sahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala?” Nabi Muhammad saw. menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa? “ Jawab para shahabat, ”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi, “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”. (H.R. Muslim).

e. Untuk mendapatkan keturunan yang salih Allah Swt. berfirman:

“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istrimu itu anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baikbaik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?”. (Q.S. an-Nahl/16:72).

f. Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami

Dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya talaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga. Firman Allah Swt.:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Talaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma‟ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hokum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukumhukum Allah mereka itulah orang-orang yang dzalim”. (Q.S. al-Baqarah/2:229).

 

3. Hukum Pernikahan

Para ulama menyebutkan bahwa nikah diperintahkan karena dapat mewujudkan maslahat, memelihara diri, kehormatan, mendapatkan pahala dan lain-lain. Oleh karena itu, apabila pernikahan justru membawa mudharat maka nikah pun dilarang. Karena itu hukum asal melakukan pernikahan adalah mubah.

Para ahli fikih sependapat bahwa hukum pernikahan tidak sama penerapannya kepada semua mukallaf, melainkan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, baik dilihat dari kesiapan ekonomi, fisik, mental ataupun akhlak. Karena itu hukum nikah bisa menjadi wajib, sunah, mubah, haram, dan makruh. Penjelasannya sebagai berikut.

a.       Wajib yaitu bagi orang yang telah mampu baik fisik, mental, ekonomi maupun akhlak untuk melakukan pernikahan, mempunyai keinginan untuk menikah, dan jika tidak menikah, maka dikhawatirkan akan jatuh pada perbuatan maksiat, maka wajib baginya untuk menikah. Karena menjauhi zina baginya adalah wajib dan cara menjauhi zina adalah dengan menikah.

b.      Sunnah, yaitu bagi orang yang telah mempunyai keinginan untuk menikah namun tidak dikhawatirkan dirinya akan jatuh kepada maksiat, sekiranya tidak menikah. Dalam kondisi seperti ini seseorang boleh melakukan dan boleh tidak melakukan pernikahan. Tapi melakukan pernikahan adalah lebih baik daripada mengkhususkan diri untuk beribadah sebagai bentuk sikap taat kepada Allah Swt..

c.       Mubah bagi yang mampu dan aman dari fitnah, tetapi tidak membutuhkannya atau tidak memiliki syahwat sama sekali seperti orang yang impoten atau lanjut usia, atau yang tidak mampu menafkahi, sedangkan wanitanya rela dengan syarat wanita tersebut harus rasyidah (berakal). Juga mubah bagi yang mampu menikah dengan tujuan hanya sekedar untuk memenuhi hajatnya atau bersenang-senang, tanpa ada niat ingin keturunan atau melindungi diri dari yang haram.

d.      Haram yaitu bagi orang yang yakin bahwa dirinya tidak akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban pernikahan, baik kewajiban yang berkaitan dengan hubungan seksual maupun berkaitan dengan kewajiban-kewajiban lainnya. Pernikahan seperti ini mengandung bahaya bagi wanita yang akan dijadikan istri. Sesuatu yang menimbulkan bahaya dilarang dalam Islam.

Tentang hal ini Imam al-Qurtubi mengatakan, “Jika suami mengatakan bahwa dirinya tidak mampu menafkahi istri atau memberi mahar , dan memenuhi hak-hak istri yang wajib, atau mempunyai suatu penyakit yang menghalanginya untuk melakukan hubungan seksual, maka dia tidak boleh menikahi wanita itu sampai dia menjelaskannya kepada calon istrinya. Demikian juga wajib bagi calon istri menjelaskan kepada calon suami jika

dirinya tidak mampu memberikan hak atau mempunyai suatu penyakit yang menghalanginya untuk melakukan hubungan seksual dengannya.

e.       Makruh yaitu bagi seseorang yang mampu menikah tetapi dia khawatir akan menyakiti wanita yang akan dinikahinya, atau menzalimi hak-hak istri dan buruknya pergaulan yang dia miliki dalam memenuhi hak-hak manusia, atau tidak minat terhadap wanita dan tidak mengharapkan keturunan.

 

4. Orang-orang yang Tidak Boleh Dinikahi

Al-Qur'an telah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak boleh (haram) dinikahi (Q.S. an-Nisā‟ /4:23-24). Wanita yang haram dinikahi disebut juga mahram nikah. Mahram nikah sebenarnya dapat dilihat dari pihak laki-laki dan dapat dilihat dari pihak wanita. Dalam pembahasan secara umum biasanya yang dibicarakan ialah mahram nikah dari pihak wanita, sebab pihak laki-laki yang biasanya mempunyai kemauan terlebih dahulu untuk mencari jodoh dengan wanita pilihannya. Dilihat dari kondisinya mahram terbagi kepada dua; pertama mahram muabbad (wanita diharamkan untuk dinikahi selama-lamanya) seperti: keturunan, satu susuan, mertua perempuan, anak tiri, jika ibunya sudah dicampuri, bekas menantu perempuan, dan bekas ibu tiri. Kedua mahram gair muabbad adalah mahram sebab menghimpun dua perempuan yang statusnya bersaudara, misalnya saudara sepersusuan kakak dan adiknya. 

Hal ini boleh dinikahi tetapi setelah yang satu statusnya sudah bercerai atau mati. Yang lain dengan sebab istri orang dan sebab iddah. Berdasarkan ayat tersebut, mahram dapat dibagi menjadi empat kelompok: 

 

 

5. Rukun dan Syarat Pernikahan

Para ahli fikih berbeda pendapat dalam menentukan rukun dan syarat pernikahan. Perbedaan tersebut adalah dalam menempatkan mana yang termasuk syarat dan mana yang termasuk rukun. Jumhur ulama sebagaimana juga mażhab Syafi‟i mengemukakan bahwa

rukun nikah ada lima seperti dibawah ini.

a.      Calon suami, syarat-syaratnya sebagai berikut:

1)      Bukan mahram si wanita, calon suami bukan termasuk yang haram dinikahi karena adanya hubungan nasab atau sepersusuan.

2)      Orang yang dikehendaki, yakni adanya keridaan dari masing-masing pihak. Dasarnya adalah hadis dari Abu Hurairah r.a, yaitu:

Dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sehingga ia diminta izinnya.” (¦R. al- Bukhari dan Muslim).

3)      Mu‟ayyan (beridentitas jelas), harus ada kepastian siapa identitas mempelai laki-laki

dengan menyebut nama atau sifatnya yang khusus.

b.      Calon istri, syaratnya adalah:

1)      Bukan mahram si laki-laki.

2)      Terbebas dari halangan nikah, misalnya, masih dalam masa iddah atau berstatus sebagai istri orang.

c.       Wali, yaitu bapak kandung mempelai wanita, penerima wasiat atau kerabat terdekat, dan seterusnya sesuai dengan urutan ashabah wanita tersebut, atau orang bijak dari keluarga wanita, atau pemimpin setempat, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada nikah, kecuali dengan wali.”

Umar bin Khattab ra. berkata, “Wanita tidak boleh dinikahi, kecuali atas izin walinya, atau orang bijak dari keluarganya atau seorang pemimpin”.

Syarat wali adalah:

1)      orang yang dikehendaki, bukan orang yang dibenci,

2)      laki-laki, bukan perempuan atau banci,

3)      mahram si wanita,

4)      balig, bukan anak-anak,

5)      berakal, tidak gila,

6)      adil, tidak fasiq,

7)      tidak terhalang wali lain,

8)      tidak buta,

9)      tidak berbeda agama,

10)  merdeka, bukan budak.

d. Dua orang saksi.

Firman Allah Swt.: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian”. (Q.S. at-Țalaq/65:2).

Syarat saksi adalah:

1)      Berjumlah dua orang, bukan budak, bukan wanita, dan bukan orang fasik.

2)      Tidak boleh merangkap sebagai saksi walaupun memenuhi kwalifikasi sebagai saksi.

3)      Sunnah dalam keadaan rela dan tidak terpaksa.

e. Sigah (Ijab Kabul), yaitu perkataan dari mempelai laki-laki atau wakilnya ketika akad nikah. Syarat shighat adalah:

1)      Tidak tergantung dengan syarat lain.

2)      Tidak terikat dengan waktu tertentu.

3)      Boleh dengan bahasa asing.

4)      Dengan menggunakan kata “tazwij” atau “nikah”, tidak boleh dalam bentuk kinayah

(sindiran), karena kinayah membutuhkan niat sedang niat itu sesuatu yang abstrak.

5)      Qabul harus dengan ucapan “Qabiltu nikahaha/tazwijaha” dan boleh didahulukan

dari ijab.

 

6. Pernikahan yang Tidak Sah

Di antara pernikahan yang tidak sah dan dilarang oleh Rasulullah saw. adalah sebagai berikut.

a.       Pernikahan Mut`ah, yaitu pernikahan yang dibatasi untuk jangka waktu tertentu, baik sebentar ataupun lama. Dasarnya adalah hadis berikut:

“Bahwa Rasulullah saw. melarang pernikahan mut‟ah serta daging keledai kampung

(jinak) pada saat Perang Khaibar. (H.R. Muslim).

b.      Pernikahan syighar, yaitu pernikahan dengan persyaratan barter tanpa pemberian mahar.

Dasarnya adalah hadis berikut:

“Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang nikah syighar. Adapun nikah syighar yaitu seorang bapak menikahkan seseorang dengan putrinya dengan syarat bahwa seseorang itu harus menikahkan dirinya dengan putrinya, tanpa mahar di antara keduanya.” (H.R.

Muslim)

c.       Pernikahan muhallil, yaitu pernikahan seorang wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya yang karenanya diharamkan untuk rujuk kepadanya, kemudian wanita itu dinikahi laki-laki lain dengan tujuan untuk menghalalkan dinikahi lagi oleh mantan suaminya. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Rasulullah saw. melaknat muhallil dan muhallal lahu”. (H.R. at-Tirmiżi)

d.      Pernikahan orang yang ihram, yaitu pernikahan orang yang sedang melaksanakan ihram haji atau 'umrah serta belum memasuki waktu tahallul. Rasulullah saw. bersabda:

“Orang yang sedang melakukan ihram tidak boleh menikah dan menikahkan.” (H.R.

Muslim)

e.       Pernikahan dalam masa iddah, yaitu pernikahan di mana seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan yang sedang dalam masa iddah, baik karena perceraian ataupun karena meninggal dunia. Allah Swt. berfirman:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu ber‟azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis

„iddahnya”. ( Q.S. al-Baqarah/2:235)

f.       Pernikahan tanpa wali, yaitu pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dengan seorang wanita tanpa seizin walinya. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” 

g.      Pernikahan dengan wanita kafir selain wanita-wanita ahli kitab, berdasarkan firman Allah Swt.:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. (Q.S. al-Baqarah/2:221)

h.      Menikahi mahram, baik mahram untuk selamanya, mahram karena pernikahan atau karena sepersusuan.

 

C. Pernikahan Menurut UU Perkawinan Indonesia (UU No.1 Tahun 1974)

Di dalam negara RI, segala sesuatu yang bersangkut paut dengan penduduk, harus mendapat legalitas pemerintah dan tercatat secara resmi, seperti halnya kelahiran, kematian, dan perkawinan. Dalam rangka tertib hukum dan tertib administrasi, maka tatacara pelaksanaan pernikahan harus mengikuti prosedur sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-undang No. 1 Thn 1974.

Adapun pencatatan Pernikahan sebagaimana termaktub dalam BAB II pasal 2 adalah dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) yang berada di wilayah masing-masing. Karena itu Pegawai Pencatat Nikah mempunyai kedudukan yang amat penting dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yaitu diatur dalam Undang-undang No. 32 tahun 1954, bahkan sampai sekarang PPN adalah satu-satunya pejabat yang berwenang untuk mencatat perkawinan yang dilakukan berdasarkan hukum Islam di wilayahnya. Artinya, siapapun yang ingin melangsungkan perkawinan berdasarkan hukum Islam, berada di bawah pengawasan PPN.

  

D. Hak dan Kewajiban Suami Istri

Dengan berlangsungnya akad pernikahan, maka memberi konsekuensi adanya hak dan kewajiban suami istri, yang mencakup 3 hal, yaitu: kewajiban bersama timbal balik antara suami dan istri, kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami.

1. Kewajiban timbal balik antara suami dan istri, yaitu sebagai berikut.

a.       Saling menikmati hubungan fisik antara suami istri, termasuk hubungan seksual di antara mereka.

b.      Timbulnya hubungan mahram di antara mereka berdua, sehingga istri diharamkan menikah dengan ayah suami dan seterusnya hingga garis ke atas, juga dengan anak dari suami dan seterusnya hingga garis ke bawah, walaupun setelah mereka bercerai.

Demikian sebaliknya berlaku pula bagi suami.

c.       Berlakunya hukum pewarisan antara keduanya.

d.      Dihubungkannya nasab anak mereka dengan suami (dengan syarat kelahiran paling sedikit 6 bulan sejak berlangsungnya akad nikah dan dukhul/berhubungan suami

isteri).

e.       Berlangsungnya hubungan baik antara keduanya dengan berusaha melakukan pergaulan secara bijaksana, rukun, damai dan harmonis;

f.       Menjaga penampilan lahiriah dalam rangka merawat keutuhan cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

 

2. Kewajiban suami terhadap istri

a.       Mahar. Memberikan mahar adalah wajib hukumnya, maka mażhab Maliki memasukkan mahar ke dalam rukun nikah, sementara para fuqaha lain memasukkan mahar ke dalam syarat sahnya nikah, dengan alasan bahwa pembayaran mahar boleh ditangguhkan.

b.      Nafkah, yaitu pemberian nafkah untuk istri demi memenuhi keperluan berupa makanan, pakaian, perumahan (termasuk perabotnya), pembantu rumah tangga dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat sekitar pada umumnya.

c.       Memimpin rumah tangga.

d.      Membimbing dan mendidik.

  

3. Kewajiban Istri terhadap Suami

a. Taat kepada suami.

Istri yang setia kepada suaminya berarti telah mengimbangi kewajiban suaminya kepadanya. Ketaatan istri kepada suami hanya dalam hal kebaikan. Jika suami meminta istri untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Allah Swt., maka istri harus menolaknya. Tidak ada ketaatan kepada manusia dalam kemaksiatan kepada Allah Swt..

b. Menjaga diri dan kehormatan keluarga.

Menjaga kehormatan diri dan rumah tangga, adalah mereka yang taat kepada Allah Swt. dan suami, dan memelihara kehormatan diri mereka bilamana suami tidak ada di rumah. Istri wajib menjaga harta dan kehormatan suami, karenanya istri tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami.

c. Merawat dan mendidik anak.

Walaupun hak dan kewajiban merawat dan mendidik anak itu merupakan hak dan kewajiban suami, tetapi istripun mempunyai hak dan kewajiban merawat dan mendidik anak secara bersama.

Terlebih istri itu pada umumnya lebih dekat dengan anak, karena dia lebih banyak tinggal di rumah bersama anaknya. Maju mundurnya pendidikan yang diperoleh anak banyak ditentukan oleh perhatian ibu terhadap para putranya.

 

II.        KESIMPULAN

1.      Nikah berarti akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing.

Sedangkan menurut Undang-undang Pernikahan RI (UUPRI) Nomor 1 Tahun 1974 adalah: “Perkawinan atau nikah ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

2.      Para ahli fikih sependapat bahwa hukum pernikahan tidak sama di antara orang mukallaf. Dilihat dari kesiapan ekonomi, fisik, mental ataupun akhlak, hukum nikah bisa menjadi wajib, sunah, mubah, haram, dan makruh. 

3.      Al-Qurān telah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak boleh (haram) dinikahi

(Q.S. an-Nisā‟ /4:23-24). Wanita yang haram dinikahi disebut juga mahram nikah.

4.      Jumhur ulama sebagaimana juga mażhab Syafi’iy mengemukakan bahwa rukun

nikah ada lima, yaitu: calon suami, calon istri, wali, dua orang saksi, dan sigat (Ijab Kabul).

5.      Di antara pernikahan yang tidak sah dan dilarang oleh Rasulullah saw. adalah pernikahan mut`ah, pernikahan syigar, pernikahan muhallil, pernikahan orang yang ihram, pernikahan dalam masa iddah, pernikahan tanpa wali, dan pernikahan dengan wanita kafir selain wanita-wanita ahli kitab, menikahi mahram.

6.      Pernikahan melahirkan kewajiban atas masing-masing pihak, suami dan istri. Kewajiban tersebut meliputi: 

a.       kewajiban timbal balik antara suami dan istri, seperti hubungan seksual di antara mereka; 

b.      kewajiban suami terhadap istri, seperti mahar dan nafkah; 

c.       kewajiban Istri terhadap suami, seperti taat kepada suami.